Tentang Kenyataan


Beberapa waktu yang lalu saya menerima keluhan seorang sahabat. Salah satu kalimat yang terucap ketika itu “tapi kenapa kenyataan yang datang itu selalu pahit?”.

Keluhan di atas saya kira tak hanya terucap oleh sang sahabat tersebut. Terlalu sering kita mendengarnya, entah itu dengan kalimat yang sama ataupun dengan redaksi yang berbeda. “Kadang saya iri dengan orang lain yang selalu bisa tertawa!” bahkan ada yang berani mengkritik tuhan “Kenapa Tuhan selalu memberikan kenyataan ini untuk saya?”.

Ketika saya mencoba menanyakan masalah pada sahabat tersebut, ternyata masalah dia sudah beberapa kali dikianati sang pacar. Atau yang lain punya masalah yang berbeda yang menyebabkannya sedikit “depresi” — kalau boleh saya menyebut demikian –.

Benarkah demikian?

Memang orang-orang di sekitar kita kadang terlihat lebih dari kita. Mungkin dia punya apa yang tidak kita punya. Saat kita melihat orang lain, dia masih bisa tertawa saat kita harus menitik air mata. Ketika tatapan kita berpindah ke orang yang lainnya lagi, eh…dia malah memperoleh sesuatu sedangkan kita baru saja kehilangan.

Lalu pantaskah kita memvonis kalau kenyataan itu selalu pahit? Tepatkah kita iri pada orang lain? Atau berhakkah kita mengkritik Tuhan?

Saya tak ingin menjawabnya…!

Sekarang, mari kita memahami kembali makna kenyataan itu sendiri.

Apakah kenyataan itu hanya ketika kita ditipu oleh sang pacar? Apakah kenyataan itu hanya saat kita kehilangan orang yang sangat kita cintai (orang tua, saudara atau  teman misalnya)? Apakah kenyataan terjadi itu hanya ketika kita kehilangan kesempatan untuk hidup yang lebih baik? Tentu saja tidak, bukan…?

Saya mengajak kita bertafakkur sejenak saja!

Pejamkan mata anda (sedetik saja), lalu buka kembali! Kita masih dapat melihat kan? Bukankah ini kenyataan? (mau tidak mau kita harus menjawab “ya”). Banyak lho orang yang tidak diberi kesempatan ini oleh Allah. Mereka tidak mempunyai penglihatan yang sempurna, bola mata yang indah, bahkan ada yang memang tidak bisa melihat sama sekali, iya kan?

Di saat orang lain berkutat dengan ketidak sempurnaan, kita masih punya organ tubuh yang sempurna, dua kaki kita masih sempurna menginjak tanah! Lidah kita masih bisa merasakan manis! Tangan kita juga masih mampu memegang! Semua ini tidak berada di alam mimpi kita, teman. Ini nyata lho…! Padahal pernahkah kita meminta semua ini pada tuhan sebelumnya?

Kita masih punya teman yang selalu berada di sisi kita saat orang lain terjerembab dalam kesepian. Kita masih punya keluarga, tak sedikit orang yang tak pernah merasakan hidup dalam keluarga. Kita masih punya guru yang mau mengajarkan sesuatu yang kita butuhkan, sedangkan sebagian lainnya hanya meraba dalam hidup ini. Bukankah semua ini juga kenyataan?

Lalu sekarang masihkah kita beranggapan bahwa kenyataan yang hadir itu selalu pahit?

Ketahuilah: orang lain bukan tidak mengalami apa yang kita alami, tetapi mereka tahu kalau kenyataan itu bukan satu hal saja! Lalu mereka tak larut dalam satu hal.

Kita tak perlu bersedih kalau memang kita harus berpisah dengan orang yang kita cintai. Karena perpisahan itu manusiawi dan harus terjadi, cuma masalah waktu saja, cepat atau lambat itu memang terjadi. Kita tak perlu kecewa ketika kegagalan itu menghampiri. Karena hidup ini cuma punya dua kata : “sukses” atau “gagal”, hanya saja waktu yang mengatur kapan kita sukses dan kapan pula kita gagal. Kita juga tak perlu berkecil hati saat kita tersaingi. Karena hidup ini adalah kompetisi, kembali waktu yang menentukan kapan kita tersaingi dan kapan kita akan menyaingi.

Masihkah kita memvonis kalau kenyataan itu selalu pahit? Masihkah kita iri pada orang lain? Masihkah kita mengkritik Tuhan?

Sekarang saya menyarankan untuk menjawab: “TIDAK!”

Lalu bagai mana saat kita menerima sebuah kenyataan pahit (perpisahan dengan orang-orang yang kita cintai misalnya) itu?

Ikhlaslah menerima kenyataan dalam hidup ini karena itu sebuah ketetapan. Kita tak perlu iri pada orang lain, masih banyak orang yang menerima kenyataan lebih pahit dari kita, masih banyak orang ingin punya kenyataan kita yang lain! Karena kenyataan itu tidak hanya satu!

Tersenyumlah sahabat.

SENYUM bukan lambang kebahagiaan tapi senyum adalah KEKUATAN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: